Selasa, 02 Oktober 2012

TERLAMBAT - cerita pendek, oleh : Maria Isabella

Rasanya seperti melayang jauh sangat jauh sampai aku tak tahu harus kemana lagi akan berakhir, aku juga tidak akan pernah mau menjadi seperti Puteri Tidur tokoh fiksi kesukaan adik ku itu yang menunggu sebuah ciuman dari Pangeran yang akan membangunkannya dari tidur. Tetapi aku juga tidak menginginkan hal seperti ini terjadi dalam tidurku ini. Walau masih belum begitu jelas aku melihat sosok ibu – ibu berdiri tepat di hadapan ku seperti sedang membawa ember cukup besar berisi air kemudian secara tiba – tiba ibu – ibu itu menyiramkan ember berisi air kepadaku, O tidak salah apa aku?!. Sontak aku kaget dan terbangun, dengan basah kuyub disekujur tubuhku, oh aku sadar ternyata itu bukan mimpi itu adalah kenyataan. Aku kira aku mengompol lagi sambil tidur tetapi ini lain seluruh badanku basah kuyub dengan Mom yang berada di hadapanku membawa ember sambil ngomel – ngomel tidak jelas dan sambil berlalu meninggalkanku. Aku salut sama Mom karena dia membangunkan anaknya dari tidur yang kelam dengan cara yang indah, yah begitulah Mom ku. Aku lihat jam Tazmania pemberian Papa ku, yang terpajang di dinding kamar tidurku yang sekarang tampak seperti kamar mandi karena ada air dimana – mana. Yang dengan amat jelasnya menunjukan pukul 06.45 WIB. O tidak sekolah kan di mulai 15 menit lagi?!. Panik! Panik! yang ada dipikirkanku sekarang ini. Langsung saja aku menyambar handuk dan bergegas untuk mandi. Lima belas menit kemudian semua persiapan untuk berangkat sekolahku sudah kelar, mulai dari sarapan bersama keluarga dan tidak lupa untuk minta maaf sama Mom tapi kata Mom setelah tadi Mom tidak ingin lagi membangunkan pagi aku. Ada senangnya juga tetapi aku juga tidak yakin apakah akan bertambah buruk kalau Mom tidak akan lagi membangunkan aku. Untuk kali ini saja aku menyuruh mbak Yem membersihkan kamarku dan langsung tancap gas ke sekolah tercinta. Kali ini aku tidak akan kebut – kebutan lagi karena aku yakin kalau aku akan terlambat lagi dan untuk hari ini sudah yang ke empat kalinya. Aku paling anti dengan bangun pagi, apalagi di semester kedua ini, selain aku suka begadang dikarenakan juga aku banyak sekali kegiatan ada pr dan tugas banyaknya segudang, bimbel, ekstrakulikuler, belum lagi kegiatan mendadak dan sebagainya itu. Walaupun sudah pasang alarm sekeras apapun bunyinya tetap aja tidak berpengaruh sama sekali. Sebenarnya yang ke empat kalinya aku terlambat ini karena aku memang terlalu capek karena tugas kelompok tentang pembuatan film pendek yang membuat pusing. Semua alasan kenapa aku terlambat ada yang sebenarnya dan ada yang tidak, semua rasa panic itu yang membuat aku terpaksa untuk berbohong. Akhirnya aku sampai juga di sekolah kurang lebih perjalanan menuju kesekolah 10 menit. Aku berada tepat di depan gerbang sekolah yang terlihat seperti akan melahap mangsa yang ada di depannya yaitu aku. tetapi kali ini aku hanya sendirian menghadapi Pak Hadi satpam sekolah yang kumisnya setebal kamus bahasa Inggris yang berada di dalam ransel biruku, biasanya ada anak – anak yang lain pada terlambat. Sial sekali hari ini. “Ehem !, Tata kamu terlambat lagi ya kali ini?” Sapa Pak Hadi yang nadanya sedikit mengejek. “Hehe iya Pak, kan cuma terlambat 10 menit, iya kan?” balas ku “Tetapi ini kamu paling parah lho Ta, biasanya kamu hanya terlambat 5 menit saja” bilangnya mengingatkan. “Ha apa!, iya Pak habisnya aku capek sekali dan tertidur terlalu pulas hari ini.” jawabku. “Alasanmu sama seperti hari – hari kemarin, cari alasan yang lain!, biasanya jugakan alasan kamu kalau tidak salah itu kehabisan bensin dijalan, ban tiba-tiba bocor” godanya “Iya Pak Hadi” kataku dengan pipi memerah. Kemudian gerbang dibuka walaupun menuggu 5 menit dengan mendengar sindiran Pak Hadi, sesuai peraturan gerbang dibuka setelah 15 menit bel jam pertama masuk kelas. Belum selesai ritual bagi anak terlambat setelah melewati gerbang sekolah dan satpamnya, masih ada satu lagi yaitu kantor BP yang terlihat seperti zombie kelaparan yang telah siap akan memakan otak ku. Di kantor BP, kali ini kasusku ditangani oleh Bu Nia guru BK yang juga wali kelasku sendiri. “LUVIANA ANABETA!” panggil Bu Nia. “Ya bu Nia. Maaf bu saya terlambat lagi” kata ku sambil menundukkan kepala dengan rasa bersalah. “Mau alasan apalagi Ta?, kamu itu termasuk murid berprestasi disekolah, tetapi kenapa Ta kamu kurang disiplin, Ibu Nia kecewa sama sikap kamu yang seperti ini. Ibu juga tidak tanya lagi alasan kamu kenapa terlambat kali ini.” kata Bu Nia kecewa. “Maap Bu, saya akan berusaha untuk tidak terlambat lagi.” jawabku untuk meyakinkan. “Kalau sekali lagi kamu terlambat, pihak sekolah tidak segan - segan akan menghubungi orangtuamu untuk datang kesekolah dan untuk bertanya dan kami pihak BP akan memberi solusi terhadap masalah kamu ini.” kata Bu Nia menegaskan. “Eem i i ya Bu.” jawabku terbata-bata karena panic. Setelah itu aku kembali ke kelas dengan perasaan sangat terbebani. Bagaimana kalau aku sampai terlambat lagi? Parah! Mom! aku takut mengecewakan Mom. Aku tahu perasaan Mom mengenai aku yang kurang disiplin waktu ini. Mungkin dengan cara mendatangkan Mom ke sekolah bisa membuat aku jera. Tetapi…
 ***** 
Keesokan harinya, ternyata benar Mom tidak membangunkan aku lagi. Jam Tazmania pemberian Papa telah menunjukan pukul 06.45 WIB. Gawat! bangun kesiangan lagi, dengan perasaan campur aduk seperti ini membuat aku gugup dan tergesa – gesa. Dengan sengaja meninggalkan sarapan pagi yang telah dibuat oleh Mom. Ngebut ngebut! Panik! Panik! Jangan sampai terlambat lagi, sambil memikirkan alasan apalagi yang akan aku buat untuk menjawab pertanyaan dari Pak Hadi dan Bu Nia. Aku menambah kecepatan motorku dari 45km/h menjadi 70km/h. Walau pada akhirnya aku terlambat lagi, tetapi aku sudah tahu apa konsekuensinya. Parah! Mom!.  
TAMAT